Minggu, 10 Maret 2013

FF SMASH First Love Until The End Part 1

Cast:
Arista Widya Sari @AristaWidyaSari
Dicky M Prasetya @dickymprasetyo
Bisma Karisma @bismakarisma
Writer & Cover :
Sally Ismi Eryos @sallyeryos
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
                                            

Arista mempecepat langkahnya menuju taman belakang sekolah. Setiap hari setelah bel pulang sekolah berbunyi, Arista selalu mendatangi taman belakang sekolahnya tersebut. Di taman itu Arista merasa sangat nyaman, dengan gemericik air danau kecil buatan yang ada disana, dan ditemani sejuknya udara yang dihasilkan oleh pohon-pohon rindang di taman itu. Arista semakin mempercepat langkahnya. Ia sudah tidak sabar untuk segera melanjutkan lukisannya. Yap, Arista suka melukis. Maka dari itu ia sering mengunjungi danau di belakang sekolah, untuk mendapatkan inspirasi dan kenyamanan.
“Huaaah…akhirnya.” Arista langsung menyandarkan badannya di bawah sebuah pohon rindang nan teduh. Ia langsung mengeluarkan sketchbooknya dan pensil lukisnya. Sesaat matanya tertuju pada seonggok badan yang tergeletak di samping pohonnya. Ia kaget sekaligus takut. “Apa itu? Apakah mayat?” Arista memberanikan dirinya untuk mendekati badan tersebut. Sesosok pria yang diam dan hening dengan posisi tidur menyamping. Memakai seragam SMA dan jacket yang menutupi kepalanya. Arista mencoba membalikkan badan pria yang dianggapnya mayat itu. Pria itu terbangun dan..
“HAAAAAAAH MAYAT!!!” pekik Arista.
“DIAM! Apaan sih lo, ganggu waktu tidur gue. Mayat? Siapa yang mayat? Lo maksud gue?!” pria tadi marah karena tidur siangnya diganggu oleh Arista.
“Eh elo, aduh ma…m..maaf.” jawab Arista takut.
“Apaansih. Udahlah gue pergi.“ Pria tadi mendirikan badannya. Tiba-tiba matanya tertuju pada halaman sketchbook Arista. Sepertinya ia mengenali orang yang dilukis Arista tersebut.“Loh? itu gue kan?“ tanya pria itu.
Arista bingung, memang gambar pria yang ada di sketchbooknya adalah gambar Dicky Muhammd Prasetya, kakak kelasnya yang duduk di 12 IPS 1. Sudah lama Arista mengagumi Dicky dan sekarang ia sedang berhadapan dengan kakak kelas yang ia kagumi. “Eng...bukan apa-apa kok, kak.“ Arista bergegas pergi dengan wajah ketakutan. Ia takut ketahuan oleh Dicky kalau ia sering melukis wajah kakak kelasnya itu. Lagian emang udah ketahuan kan *eh
***
Dicky melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia terlihat lelah seharian di sekolah. Tiba-tiba ia teringat dengan adik kelasnya yang ia temui di taman belakang sekolah tadi siang.
“Kenapa ya cewe itu? Aneh deh, itu yang digambarnya kok mirip sama gue ya.“ Dicky berfikir kebingungan dengan perasaan penasaran. Tiba-tiba pintu kamarnya kebuka. CEKLEK, Bisma memasuki kamar Dicky.
“WOI KY!! Ngelamunin apaan lo? Serius amat.“ Ujar Bisma sambil merebahkan badannya di kasur empuk kamar Dicky.
“Itu, tadi gue ketemu sama cewe, kayanya sih junior kita, dia ngirain gue mayat yang mati di belakang sekolah. Trus gue ngeliat di sketchbooknya dia ada lukisan dan lukisan itu mirip gue.“
“Lo sempat kenalan gak sama dia?“ tanya Bisma penasaran.
“Ya belum lah. Pas gue tanyain soal gambar yang ada di sketchbooknya dia, dia langsung lari ketakutan ninggalin gue. Aneh banget deh.“
“Dia penggemar rahasia lo kali hahaha. Siapa tau aja emang elo yang dilukisnya. Penggemar lo kan banyak di sekolah.“ Ujar Bisma sambil menertawakan kejadian yang dialami sahabatnya itu.
“Gila aja lo. Udah ah capek ah mikirinnya. Tidur ah.“ Jawab Dicky bete lalu menutup wajahnya dengan bantal rilakumanya.
“Dicky...Dicky...lo itu kaya anak anak deh haha.“ Bisma geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya yang imut dan lucu itu.
***
Arista sedang asyik mendengarkan pelajaran dari Pak Rafaell. Ia sangat semangat di pelajaran ini, kenapa? Ya karena pelajaran Matematika adalah pelajaran kesukaan Arista. Yap, semua pelajaran yang bikin otak melintir kaya Matematika, Fisika, dan Kimia sangat disukai oleh Arista. Pantas dia selalu menjadi murid kesayangan oleh guru dibidang mata pelajaran itu.
Sesaat Arista mengalihkan pandangannya ke jendela kelas, matanya terbelalak melihat dua orang pria sedang melewati kelasnya. Yap, mereka Dicky dan Bisma. Pada saat yang bersamaan juga tanpa sengaja mata Dicky melihat ke dalam kelasnya Arista, mereka beradu pandang, Aritsa takut Dicky mengenali wajahnya, ia langsung memalingkan wajahnya ke arah papan tulis. Dicky berbicara kecil. “Oh kelas 10.6....“ bisiknya.
“10.6? Siapa ky?“ tanya Bisma yang ternyata mendengar suara kecil Dicky.
“Itu loh, Bis. Cewe yang kemaren gue temuin di belakang sekolah. Benar kan tebakan gue, ternyata dia adik kelas kita. Dia di kelas 10.6“ Dicky menopangkan jempol dan jari telunjuk di dagu lancipnya sehingga membentuk huruf V yang tengah terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras.
“Ooh, trus tadi dia ngeliat elo?“ tanya Bisma.
“Dia liat sih, tapi mendadak kaya ngindarin pandangannya dari gue.“
“Takut kali sama lo hahaha“ Bisma tertawa.
“Emang gue genderuwo apa, nakutin segala. Sial ah lo. Udah yuk ke kantin.“ Dicky merangkul pundak sahabatnya itu dan mengajaknya ke kantin. Dicky dan Bisma cabut dimata pelajarannya Pak Morgan, ya Dicky dan Bisma kan badung. Suka cabut, apalagi di mata pelajaran yang bikin otak melintir. Beda banget kan sama Arista hehe.
***
Hujan semakin deras. Dicky dan Bisma berteduh di halaman depan sekolah. Sekolahan mulai sepi, hanya tinggal beberapa murid yang membawa motor ke sekolah. Termasuk Bisma dan Dicky, selebihnya sih yang dijemput sama Orang Tua mereka udah pada pulang. Baju Bisma dan Dicky kebasahan. Bisma melihat seorang cewe sedang duduk di bangku meja piket. Ia mendatangi cewe itu.
“Hai, ada tissue nggak?“ tanya Bisma mendatangi cewe tersebut dan sesaat meninggalkan Dicky yang masih berdiri di depan sekolah. Cewe itu diam dan menunduk, ia tak melihat Bisma sedikitpun. Bisma aneh. “HELLOOOO ADA TISSUE NGGAK?“ tanya Bisma dengan nada yang agak keras. Cewe itu masih saja tetap seperti semula. Diam, seperti batu es.
Dicky mendatangi Bisma yang masih berdiri di dekat cewe itu. “Kenapa sih Bis?“ tanya Dicky menghampiri. Melihat kedatangan Dicky, cewe itu kaget dan langsung berlari menerobos hujan yang deras. Aneh itulah pandangan Bisma dan Dicky ketika melihat tingkah cewe itu.
“Lah......dia malah pergi. Apa suara gue nggak kedengeran ya sama dia? Apa dia budeg?“ Bisma garuk-garuk kepala sendiri karena kebingungan.
“Kan aneh banget deh itu cewe. Dia itu loh Bis yang kemaren gue temuin di belakang sekolah. Aneh kan gayanya.“ Dicky semakin bingung melihat tingkah Arista yang ketika bertemunya seperti orang ketakutan.
“Jadi dia yang lo maksud? Gue sering sih ngeliatnya, dia ikut ekskul seni sama kaya gue. Cuma nggak terlalu kenal sih. Anaknya pendiam, saking pendiamnya gue minta tissue aja dia nggak jawab.“ Ujar Bisma.
“Bisu ya?“ tanya Dicky asal.
“Nggak kali. Dia emang gitu. Tipe-tipe snow ladylah.“ Jawab Bisma sambil tertawa kecil.
“Snow Lady maksud lo?“ Dicky bingung.
“Ya wanita dingin yang jarang senyum. Dan selalu menyendiri. Hatinya itu beku kali ya, nggak bisa dideketin sama orang trus nggak mau senyum dan selalu menghindar.“ Jawab Bisma.
“Cool lady lah. Lebih cocok kali.“ Dicky menambahkan dengan asal.
“Ah serah deh. Udah teduh tuh, yuk pulang.“ Ajak Bisma
“Eh..“ mata Dicky tertuju pada sketchbook yang tergeletak di atas bangku meja piket. Ia mengambil sketchbook itu. “Loh ini kan punya cewe tadi.“ Dicky membuka sketchbooknya dan memperhatikan lukisan di setiap lembaran sketchbook itu. Bisma juga melihat isinya dan betapa kagetnya dia ternyata isi dari gambar tersebut adalah wajah sahabatnya sendiri, ya si Dicky.
“Gila lukisan dia keren loh. Modelnya elo lagi. Eh yang ini lucu deh elo sedang tidur di bangku sekolah haha. Kok dia bisa ya bikin gambar sebagus ini.“ Bisma menunjuk ke salah satu gambar yang memperlihatkan Dicky yang sedang tertidur di bangku sekolah.
“Keren nih..tapi sayang orangnya aneh.“ Jawab Dicky sambil terus memperhatikan gambar itu.
***
Dicky masih kepikiran dengan Aritsa, gadis manis yang selalu mengindar setiap bertemu dengan Dicky. Ia teringat dengan sketchbooknya Arista. Ia berjalan menuju meja belajarnya, mengambil sketchbook tadi di dalam tasnya. Ia keluarkan sketchbook berwarna coklat muda itu yang bersampul menara eifel. Ia kembali merebahkan badannya di atas kasur sambil memandangi gambar demi gambar yang ada di dalam sketchbook itu. Ia kagum dengan keindahan lukisan itu. Jarang sekali ada orang yang sering memperhatikannya seperti ini dan mengambar wajahnya dengan sebagus ini.
“Gambarnya bagus dan indah. Hebat ya dia, bisa ngegambar gue sampai kaya gini. Dan orangnya juga cantik.“ DEG! Dicky terdiam. Apa? Barusan dia bilang cantik? Siapa? Arista? Ia kebingungan kenapa mendadak keingat wajah ketakutan Arista ketika bertemu dengannya. Dan teringat ekspresi Arista ketika berlari setiap bertemu dengannya. Gadis manis itu mulai menarik perhatian Dicky.
“Aduh gue ngomongin apaan sih.“ Dicky memperhatikan gambar dimana ia terlihat sedang tidur, dibawah gambar itu tertulis nama Arista. “Oh jadi namanya Arista. Hm...bagus juga. Sama kaya orangnya.“ Lama kelamaan Dicky tertidur setelah memandangi setiap detail lukisan di sketchbook itu.
***
Hari ini Dicky berniat ingin menemui Arista sepulang sekolah. Untuk mengembalikan sketchbook milik Arista. Sepulang sekolah ia langsung menuju kelas Arista bersama Bisma.
”Mana ya orangnya?“ Dicky celingak celinguk melihat ke arah murid yang satu per satu mulai keluar meninggalkan kelas 10.6 tersebut.
“Nah itu dia, Ky!!“ Bisma menunjuk ke arah cewe yang memakai tas bergambar Rilakuma itu. Yap, dia Arista.
“Hei tunggu!!“ Dicky memanggil Arista. Langkah Arista terhenti, ia membalikkan badannya ke arah sumber suara. Matanya terbelalak kaget melihat Dicky dan Bisma berjalan ke arahnya. Ia ketakutan, sekarang ia dikepung oleh Bisma dan Dicky. Arista semakin kebingungan, mendadak pandangannya kabur, jantungnya berdetak kencang. Semakin kencang semakin nafasnya sesak.
Hayo penasaran kan apa yang akan terjadi dengan Arista ketika bertemu dengan Dicky dan Bisma? Tungguin di Part 2 ya. Jangan lupa comment dan follow twitter saya @sallyeryos. Thanks buat Arista smashblast yang namanya boleh saya gunakan untuk cast di FF ini follow @AristaWidyaSari. Maaf kalau ada Typo hehe

1 komentar: